Seorang penggali pasir di Kampung Citutung, Desa Telaga Luhur, Kecamatan Waringin Kurung, Kabupaten Serang, Banten membangun rumah seperti istana bawah tanah, bekas galian pasir seorang diri selama 15 tahun. Sudah 110 cangkul terpakai untuk menggali pasir yang berada di areal bebatuan cadas tersebut.

 

Tidak terpikirkan oleh Abdul Munir, pria 70 tahun ini, jika keisengannya berbuah karya bangunan bawah tanah yang disebut oleh orang-orang sekitar adalah Gua Munir. Gua Munir mirip bangunan istana kerajaan.

 

Sehari-hari  Abdul Munir berprofesi penggali pasir di Kampung Citutung, Kabupaten Serang. Sudah bertahun-tahun pasir di lahan miliknya ia gali, untuk dijual ke warga sekitar yang membutuhkan material pasir.

 

Gua Munir yang merupakan bangunan bawah tanah yang terbentuk dari bebatuan cadas ini memiliki lebar 5,5 meter dan panjang 30 meter. Gua ini memilki ruangan-ruangan yang belum sempurna, layaknya rumah tinggal pada umumnya. Terdapat lima kamar tidur, tempat salat, kolam, dua ruang  tengah, ruang  tamu, anak tangga dan tiang penyangga yang belum utuh terbentuk. Meski Abdul Munir memiliki rumah layak, bangunan bawah tanah berdinding cadas bekas galian pasir ini direncanakan dijadikan tempat tinggal untuk keluarganya.

 

Bangunan bawah tanah ini di bentuk dan digali oleh Abdul Munir seorang diri sejak 2004 silam hingga 2018. Untuk mengerjakanya, dinding bebatuan cadas diukir lalu digali dengan cangkul hingga menyerupai ruangan, sedangkan pasir hasil galian diambil lalu dijual.

 

Mulanya Munir hanya berniat membuat kolam ikan, namun kelamaan, dirinya butuh tempat untuk berteduh hingga pada akhirnya Munir memulai penggalian dan membentuk ruangan-ruangan yang difungsikan untuk berteduh menyerupai rumah. Tak jarang pada dinding bangunan ditemukan garis ukiran, ia terinspirasi dari Gua Safarwadi Pamijahan, di Tasikmalaya Jawa Barat.

 

Banyak warga yang terkesan akan bangunan bekas galian pasir karya Munir ini.

 

Gua Munir kerap dikunjungi  warga dari luar daerah untuk menghabiskan waktu libur menikmati karya buah tangan dari seorang penggali pasir Abdul Munir. Bahkan aparatur desa setempat juga sering berkunjung ke tempat ini untuk sekedar melihat-lihat gua ini.

 

Jurnalis Video: Darma Wijaya
Editor: Ryan Maulana