Jumat, 14 Desember 2018

Menteri Keuangan Sri Mulyani menanggapi nilai tukar rupiah yang tergerus mencapai Rp 15.218 per dolar Amerika Serikat menurut data RTI pada pukul 13.00, Senin, 8 Oktober 2018.

Menurut Sri Mulyani, rupiah melemah karena imbal hasil obligasi AS atau surat utang negara tenor 10 tahun milik Amerika Serikat yang terus menguat. Imbal hasil atau yield dari bond AS untuk jangka waktu sepuluh tahun meningkat tajam hingga di atas 3,4 persen. Padahal nilai imbal hasil biasanya tak lebih dari 3 persen.

"Nilai tukar rupiah saat ini juga dipengaruhi tingkat suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat. Apalagi ke depan suku bunga mungkin akan bergerak lebih cepat, dan mungkin yang akan terus menanjak seiring dengan pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell bakal menaikkan suku bunga lagi tiga kali tahun 2019," kata Sri Mulyani.

Stok Foto: TEMPO (Subekti, Friski Riana), ANTARA (Rosa Panggabean), Reuters (Al Drago, Chris Wattie, Kham)
Narasi: Dias Prasongko
Editor: Ngarto Februana