Selasa, 23 Oktober 2018

Wilayah di Palu ini nyaris terhapus dari peta karena pencairan tanah atau likuifaksi setelah gempa bumi dan tsunami pada 28 September 2018. Bencana yang menghancurkan Kabupaten Donggala, Kota Palu, dan sekitarnya itu menewaskan lebih dari 1.900 orang.

Balaroa, salah satu wilayah paling terpukul oleh bencana, "tanah cair" menelan bangunan. Ratusan rumah terlihat tenggelam sekitar 10 meter di bawah tanah. Sekitar 1.000 orang diperkirakan masih hilang. Balaroa, yang sebelumnya terdiri dari 3.000 rumah tangga, kini tersebar tiang-tiang listrik yang runtuh, jalan-jalan rusak, rumah-rumah roboh.

Perbaikan jalan yang rusak sangat mendesak.

Relawan dari Perhimpunan Dokter Indonesia mengatakan mayat yang terkubur di reruntuhan gedung mengancam kesehatan masyarakat.

"Banyak mayat [dikuburkan] di tempat ini. Sangat sulit untuk mengevakuasi mereka. Mayat akan membusuk dan menyebarkan penyakit, sehingga banyak orang mengalami masalah pernapasan, pencernaan, seperti diare," kata Gerredan Hardgo, dari Perhimpunan Dokter Indonesia.

Beberapa orang yang selamat telah evakuasi untuk tinggal di kamp-kamp pengungsian terdekat.

Video/Narasi: China Central Television (CCTV)/Reuters
Editor: Ngarto Februana