Senin, 19 November 2018

Guqin atau qin, alat musik tradisional Cina, kembali dilestarikan pemerintah Kota Taipei dan Chinese Guqin Association lewat Rumah Budaya Qin (Taipei Qin Hall) pada 2012. Di sini, siapa pun yang tertarik belajar alat petik ini dapat berguru untuk menjadi mahir setidaknya selama enam bulan.

Menurut sejarahnya, qin awalnya digunakan sebagai perangkat religius untuk berkomunikasi dengan para leluhur dengan langit dan bumi. Qin kemudian berkembang dan digunakan untuk keperluan ritual dan spiritual.

Pada masa kekaisaran, qin menjadi alat musik yang digunakan dalam orkestra sebagai solo instrumen. Setelah saat itu mulai banyak orang yang memainkannya, dari kalangan Kaisar sampai masyarakat biasa. Salah satunya Yuting Choo, perempuan berusia 28 tahun yang belajar qin sekitar tiga tahun lalu. Ia kini telah menjadi salah satu guru qin di Taipei Qin Hall—yang bergaya Jepang.

Alat ini dipetik mirip gitar. Notasinya sudah dibukukan sejak abad kedelapan, tapi ritmenya dipelajari dari pelatih.

Harga alat petik qin berkisar 15-20 ribu dolar Taiwan atau sekitar Rp 7,4-9,8 juta. Rangkanya terbuat dari kayu, sedangkan senarnya terbuat dari baja. Ada juga yang terbuat dari sutra dan harganya ratusan ribu dolar Taiwan.

Jurnalis Video: Martha Warta Silaban
Editor: Ngarto Februana