TEMPO.CO, Jakarta : Bicara soal Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra adalah gagasan dan orang-orang di belakang ide itu. Lekra yang berdiri sejak 1950 ini sungguh menjelaskan bahwa ada hubungan antara seni dan revolusi. Yang tak rakyat ketika itu dimusuhi. Padahal sastra yang prorakyat sesungguhnya bukan sesuatu yang mudah dipahami. Tubuh organisasi itu sendiri pun penuh dinamika. Para aktivis Lekra pada akhirnya tercerai dan berkonflik. Sebagian karena perbedaan pandangan, menyusul perbedaan pandangan Uni Soviet dan Cina perihal revolusi.Lalu benarkah Lekra adalah bagian dari Partai Komunis Indonesia? Bagaimana kini para aktivisnya menyelami sejarah kelam 1965, perihal polemik seni-politik dan mereka yang terusir dan terbunuh karenanya?Saksikan selengkapnya program Cover Tempo hanya di Aora TV saluran 068, setiap hari Selasa pukul 22.00 WIB