Kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dengan tujuan mendatangkan devisa dan menyejahterakan masyarakat menyimpan problem lingkungan yang serius. Hutan jadi porak-poranda, tapi tak ada jaminan perkebunan sawit serta-merta terbangun.

Problem inilah yang terjadi di Boven Digoel, Papua. Penyebab utamanya adalah ketamakan pengusaha dan aturan yang longgar. “Perkebunan” kelapa sawit milik Menara Group, perusahaan asal Malaysia, di Boven Digoel adalah contoh tragedi lingkungan akibat aturan yang goyor itu. Hingga hari ini, sejak menerima izin pelepasan kawasan hutan (IPKH) pada 2011-2013, Menara tak kunjung menanam sawit dan ingkar membangun infrastruktur di kabupaten itu.

Kasus Menara Group mesti menjadi pembelajaran bagi pemerintah pada masa moratorium izin kebun sawit yang berlaku September lalu hingga tiga tahun mendatang ini. Selain mendata izin-izin perkebunan yang diperjualbelikan, pemerintah mesti mereformasi tata kelola perizinannya agar tak dimanfaatkan pengusaha culas yang hanya mengejar untung lewat lisensi mengeruk sumber daya alam Indonesia.

Sumber: Opini Majalah Tempo Edisi 26 November-2 Desember 2018

Kerja sama liputan Tempo dengan Earthsight, Mongabay (Inggris) dan Malaysiakini (Malaysia).