Bersaksi di depan Kongres AS, CEO Boeing, Dennis Muilenburg, Selasa, mengakui kesalahan atas jatuhnya pesawat 737 MAX yang menewaskan 346 orang di Indonesia dan di Kenya. Tetapi, Muilenburg menghindari pertanyaan mengapa perusahaan menahan detail tentang sistem otomatis baru yang cacat.

Sebuah pesawat Ethiopian Airlines dalam perjalanan dari Addis Ababa ke Nairobi, Kenya, jatuh pada 10 Maret 2019, menewaskan semua 157 orang di dalamnya. Sebelumnya, kecelakaan Lion Air pada 29 Oktober 2018 di Indonesia menewaskan 189 orang di dalamnya. Keduanya adalah pesawat Boeing 737 Max 8 dan keadaan di sekitar kedua kecelakaan itu memiliki kesamaan yang mengkhawatirkan.

Kedua kecelakaan itu melibatkan pengulangan fungsi perangkat lunak kontrol penerbangan yang disebut MCAS, yang merespons sinyal yang salah dari sensor yang mengukur sudut serangan pesawat, tulis Muilenburg dalam kesaksian tertulis.

Namun, ditekan oleh anggota parlemen AS tentang mengapa Boeing mengizinkan pesawat jet, dengan sistem kontrol penerbangan yang berisiko sudah diketahui perusahaan sebelum kecelakaan, untuk terus terbang, Muilenburg memberikan beberapa detail, dan Senator Tammy Duckworth menggambarkan pidatonya sebagai "setengah kebenaran". 

Video/Narasi: China Central Television (CCTVPlus)
Editor: Ngarto Februana