TEMPO.CO, Jakarta : Genderang perang telah berbunyi. Jelang pemilihan presiden 9 Juli mendatang, dua poros koalisi besar telah terbentuk. Poros pertama berkekuatan hampir 40 persen. Terdiri atas empat partai politik pengusung calon presiden Joko Widodo dan calon wakil presiden Jusuf Kalla. Poros kedua, enam partai politik pengusung capres Prabowo Subianto dan cawapres Hatta Radjasa. Poros ini berkekuatan hampir 49 persen. Poros pertama, kabarnya tak membicarakan soal power sharing jika menang nanti. Lain halnya dengan poros kedua. Ada yang dijanjikan hingga 8 jatah kursi menteri di kabinet bentukan kelak. Sungguh sebuah paradoks. Koalisi yang satu mengedepankan sebuah kepastian masa depan yang meski masih dalam ramalan. Koalisi yang lain, kerja dahulu, bagi-bagi posisi belakangan. Lalu barisan mana yang bakal membawa perubahan bagi nasib rakyat Indonesia di Pilpres nanti? Strategi kemenangan seperti apa yang dipilih oleh masing-masing kubu?