TEMPO.CO, Bandung : Kebiasaan meminum teh di masyarakat dunia sudah sejak dulu dilakukan. Bahkan perannya menjadi kebutuhan menggantikan air putih. Di Indonesia sendiri banyak pengusaha perkebunan teh yang memproduksi teh untuk dikonsumsi masyarakat. Keuntungan yang didapat dari konsumen dalam maupun luar negeri cukup memuaskan. Namun, Ketua Umum Dewan Teh Indonesia, Rachmat Badruddin, mengatakan perkebunan teh rakyat dalam dua dekade terakhir ini mengalami kerugian. Hal tersebut diakibatkan produksi teh rakyat mengalami penurunan harga akibat meningkatnya kuota import. Dalam kurun waktu 10 tahun, Rahmat yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT. Cakra Dewata menambahkan, sekitar 3.000 hektar per tahun perkebunan teh rakyat berkurang dari total 150.000 hektar perkebunan teh rakyat di Indonesia. Sehingga, para pemilik lahan banyak yang menkonversikan ke tanaman lain.Meskipun pada tahun 2014 ini, Kementerian Pertanian RI memberikan dana rehabilitasi sebesar 50 miliar, namun hal tersebut bukan satu-satunya cara untuk memberdayakan perkebunan teh rakyat. Menurutnya yang paling penting adalah bagaimana cara untuk memasarkannya. Videographer : DICKY ZULFIKAR NAWAZAKIEditor : DWI OKTAVIANE