Mayoritas penyakit baru yang menyerang manusia adalah zoonosis. Artinya mereka berasal dari hewan liar (kebanyakan mamalia), lalu berpindah ke manusia.

Marcos E. García-Ojeda, dosen biologi di University of California, Merced, menjelaskan hal ini. Seperti ditulis di Navytimes.com, Marcos mengatakan di antara mamalia, kelelawar memiliki jumlah virus zoonosis yang lebih tinggi. Orang dan hewan yang berinteraksi dengan kelelawar (atau air seni, kotoran, atau air liur) mungkin menangkap virus zoonosis ini dan kemudian menyebarkannya ke hewan atau manusia lain. Sebagai akibat dari epidemi COVID-19, Cina memberlakukan larangan permanen pada pasar hewan liar.

Mengapa kelelawar tidak sakit karena virus? Kelelawar adalah hewan yang sangat luar biasa. Mereka adalah satu-satunya mamalia yang terbang. Para ilmuwan mengaitkan modifikasi genetik dengan sistem kekebalan pada kelelawar. Misalnya, sistem kekebalan kelelawar melawan infeksi virus tetapi tidak bereaksi berlebihan terhadap mereka, mencegah kelelawar jatuh sakit dari banyak virus yang mereka miliki.

Sumber Video/Footages: Down to Earth (downtoearth.org.in), University of California (UCMerced), Marcos E. García-Ojeda, Smithsonian Channel, Youtube via Dailymail, Weibo
Sumber Narasi: Navy Times Daily (navytimes.com)
Editor: Ngarto Februana