Dua Kelompok Pelajar di Kota Serang Terlibat Tawuran di Hari Kartini

Jum'at, 21 April 2017 | 19:04 WIB

TEMPO.CO, Serang: Ironis, peringatan hari kartini dinodai aksi tawuran oleh dua kelompok pelajar di Kota Serang Banten Jumat Siang. Dengan menggunakan senjata tajam, gir, parang ,bambu hingga gergaji es dua kelompok pelajar di Kota Serang Banten terlibat tawuran usai menunaikan shalat jumat di Jalan Abdul Latief, Ciceri, Kota Serang Banten.

Dua kelompok pelajar ini terlibat saling serang dengan melempar batu dan menggunakan senjata tajam di jalanan. Dengan membawa senjata tajam dua kelompok pelajar ini melancarkan serangan untuk melukai lawan. Ironisnya guru yang berusaha melerai dua kelompok pelaJar ini nyaris dilawan dengan senjata tajam, ketika berusaha melerai.

Aksi tawuran terus berlangsung hingga menyebebakan keemacetan. Arus lalu lintas sempat mengalami kemacetan panjang. Sebab, para pengguna jalan tak ada yang berani melintas, bahkan sejumlah pengguna jalan nekat mengambil jalur lainnya. Kebrutalan puluhan pelajar berlangsung hanya 15 menit usai pihak kepolisan bersama warga dan guru membubarkan aksi dua kelompok pelajar yang saling serang.

Petugas kepolisian yang datang kelokasi mengamankan sejumlah senjata tajam dari tangan pelajar, bahkan beberapa pelajar juga turut diamankan oleh petugas kepolisian. Aksi tawuran yang melibatkan dua kelompok pelajar ini disebabkan karena saling ejek. Bahkan salah seorang guru mengakui jika aksi tawuran antar dua kelompok belajar dari dua sekolah beberbeda ini rutin terjadi setiap satu minggu sekali pada jumat siang.

Aksi tawuran dua kelompok pelajar ini dicurigai ditunggangi oleh pihak luar yang merupakan alumni sekolah kejuruan negeri di Kota Serang. Petugas polisi pun menginterogasi 3 orang remaja yang berada di lokasi tawuran, namun ketiganya membantah sebagai provokator aksi tawuran.




Jurnalis Video: Darma Wijaya
Editor/Narator: Ridian Eka Saputra

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan