Pelajar SMA Tewas Bersimbah Darah, Ibunya Luka Parah

Kamis, 18 Mei 2017 | 16:52 WIB

TEMPO.CO, Tangerang Selatan: Seorang pelajar yang duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA) bernama Raul, berusia 16 tahun, ditemukan tewas bersimbah darah dengan luka tusuk di bagian leher dan dada bagian kanan. Pelajar yang setiap harinya menyambi bekerja sebagai penjaga warnet tersebut tewas tepat di depan halaman rumahnya yang berlokasi di Perumahan Taman Kedaung Indah Blok D4/15 Kedaung, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Rabu malam, 17 Mei 2017.

Sementara itu, ibu dari pelajar malang tersebut mengalami luka sayatan senjata tajam di bagian leher. Sang ibu kini sudah dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi luka parah.

Saat ini, polisi dari Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tangerang Selatan dengan dibantu Unit Reserse dan Kriminal dari Polsek Pamulang langsung melakukan olah tempat kejadian perkara di rumah korban yang diduga kuat tewas akibat dibunuh. Dari hasil olah tempat kejadian perkara pihak kepolisian menemukan barang bukti berupa obeng dengan bekas darah serta pisau yang diduga oleh pelaku menghabiskan nyawa korban.

Menurut saksi mata kejadian Yusron mengatakan dia mendengar ada suara minta tolong, kemudian saat dia menghampiri asal teriakan suara tersebut ditemukan korban tewas dengan bersimbah darah di samping ibunya.

Kapolres Tangerang Selatan Ajun Komisaris Besar Polisi Fadli Widiyanto yang tiba di lokasi mengatakan telah terjadi dugaan tindak pidana pembunuhan yang mengakibatkan seorang anak tewas dengan luka tusuk di bagian leher dan dada, sementara ibunya dalam kondisi sekarat dan dirawat secara intensif di rumah saki.

Kini pihak kepolisian tengah menghimpun keterangan dari warga dan saksi mata kejadian guna mendalami tindakan pembunuhan tersebut, sementara jenazah korban dilarikan ke Rumah Sakit Fatmawati untuk dilakukan otopsi.

Jurnalis Video: Marifka Wahyu Hidayat
Editor: Ngarto Februana

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan