Majalah Tempo pekan ini menurunkan laporan soal kebocoran vaksinasi. Penelusuran Tempo menunjukkan ada sejumlah orang yang bukan tenaga kesehatan tapi bisa mendapatkan vaksin Sinovac. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari sosialita, pegawai kantoran, birokrat, hingga pejabat dan keluarganya. Di sisi lain, ada keluhan dari sejumlah tenaga kesehatan bahwa mereka belum atau tidak bisa mengakses vaksin Sinovac.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun mengakui adanya kebocoran tersebut. Namun dia memutuskan untuk tetap berfokus pada penuntasan vaksinasi untuk tenaga kesehatan ketimbang mempersoalkan kebocoran. Menkes juga mengakui adanya persoalan basis data yang digunakan Kemenkes.

Selain persoalan basis data, Kementerian Kesehatan juga dianggap mengejar kuantitas dan mengabaikan kualitas vaksinasi. Dengan begitu, muncullah celah kebocoran yang dimanfaatkan oleh mereka yang bukan tenaga kesehatan. Dikhawatirkan, kebocoran ini bisa membuat vaksinasi tahap berikutnya terus berlanjut.

Di sisi lain, pengusaha juga mendorong vaksin mandiri. Mereka melobi pejabat negara, termasuk Kementerian Kesehatan, agar vaksin mandiri bisa segera terlaksana. Namun, sejumlah pengusaha keberatan dengan persyaratan pemerintah yaitu vaksin diberikan secara gratis.