TEMPO.CO, Banyuwangi : Sebanyak 200 wanita di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mengikuti Festival Sego Tempong di Lapangan Blambangan. Mereka berlomba-lomba menyajikan Sego Tempong terenak sekaligus dengan penyajian menarik.Peserta berasal dari kalangan penjual sego tempong, koki hotel atau restoran dan instansi. Festival ini dimeriahkan oleh chef Marinka yang ikut meracik dan berbagi tips tentang penyajian kuliner. Setelah itu acara dimulai dengan mengulek sambal secara massal menggunakan aneka cobek dari batu dan kayu. Sego Tempong merupakan kuliner tradisional Banyuwangi. Dalam bahasa Indonesia, Sego Tempong artinya nasi yang menampar. Nama ini diberikan karena sego tempong memiliki sambal yang sangat pedas. Salah satu peserta, Handayani, mengatakan, tertarik mengikuti lomba karena sego tempong selalu menjadi makanan wajib di keluarganya. Selain murah meriah, sego tempong juga menyehatkan dan rendah kolesterol.Sepiring nasi tempong terdiri dari tahu, tempe, ikan asin dan dadar jagung. Sayur lalapannya juga khas, yakni bayam, selada air, terung rebus dan kubis. Sedangkan sambalnya terdiri dari puluhan cabe rawit, tomat, terasi, ranti dan diberi sedikit air jeruk agar segarAcara ini dihadiri ribuan warga Banyuwangi. Bahkan para mahasiswa yang kuliah di luar daerah, rela pulang demi bisa menikmati kuliner tradisional tersebut.Warung sego tempong sendiri bisa dijumpai hampir di seluruh sudut kota Banyuwangi. Harganya cukup murah, antara Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per porsi.Videografer : Ika NingtyasEditor : Ryan MaulanaMusik ilustrasi : "Alive And Well full mix", JewelBeat