TEMPO.CO, Makassar: Meski dipadati kawasan pemukiman dan rumah toko, Kota Makassar masih memiliki sedikit lahan pertanian untuk ditanami padi. Salah satunya di kampung Laikang sebelah timur Kota Makassar yang berbatasan dengan kabupaten Maros. Tiap tahunnya warga Laikang rutin menggelar pesta panen yang oleh masyarakat setempat disebut Mappadendang, sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil panen. Mappadendang biasa digelar saat memasuki musim kemarau, pada malam hari saat bulan purnama. Acara adat ini dulu umum dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah. Tapi kini, acara tersebut perlahan mulai ditinggalkan masyarakat.Dalam Mappadendang enam perempuan mengenakan baju bodo silih berganti memukul alu atau dalam bahasa bugis makassar disebut Palungang ke dalam lesung. Sehingga mengeluarkan irama yang enak didengar telinga. Perempuan pemukul lesung yang disebut Pakkindona juga akan menyanyikan sejumlah lagu mengiringi suara lesung. Sedangkan sejumlah pria yang disebut Pakkambona menari dan ikut menabuh ujung lesung.Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Danny Pomanto yang diundang menyaksikan upacara adat ini berjanji akan memperbaiki infrastruktur di Laikang agar dapat menjadi kampung budayaSelama Mappadendang, warga juga menyuguhkan atraksi Parraga. yakni aksi para pria memakai baju adat memperlihatkan kepiawaiannya memainkan bola takraw. Ada juga aksi silat yang disebut Pamanca. Kemeriahan pesta panen ini menarik perhatian banyak warga dari luar. sehingga menjadi objek wisata di Laikang. Sayangnya pagelaran budaya ini belum dikemas dengan baik. warga yang berdatangan dibiarkan duduk atau berdiri di bawah pohon. Lampu dari PLN yang sering padam juga menganggu kenyamanan warga yang melihat pesta panen itu.Jurnalis Video : MUHAMMAD YUNUS Editor/Narator : RYAN MAULANA