TEMPO.CO, Serang: Dari pantauan kamera trap yang diambil petugas balai Taman Nasional Ujung Kulon selama tahun 2011 hingga 2014 yang dipasang di sejumlah titik Taman Nasional Ujung Kulon diketahui ada empat badak yang mati. Dari keempat badak yang mati tersebut, dua diantaranya mati pada tahun 2011 hingga tahun 2013 dan dua badak sisanya mati pada 12 november 2014. Satu dari dua anak badak yang mati pada tahun 2014 adalah badak yang dinamai Arjuna. Pada konferensi pers di aula pendopo Gubernur Banten, Kota Serang. Muhamad Haryono, selaku kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengatakan, Terkait penyebab matinya badak di Taman Nasional Ujung Kulon diperkirakan karena faktor penyakit dan faktor alam lainnya, termasuk akibat binatang pemangsa seperti anjing hutan. Sementara untuk mengurangi jumlah kematian pada badak bercula satu yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon berbagai strategi dilakukan oleh pengelola Taman Nasional Ujung Kulon, diantaranya melakukan peningkatan jumlah populasi dengan meningkatkan perkembangbiakan badak. Dan juga membangun habitat badak diluar Taman Nasional Ujung Kulon.Jumlah badak bercula satu yang ada ditaman Nasional Ujung Kulon hingga tahun 2015 ada 57 ekor yang terdiri atas 31 badak jantan, dan 26 badak betina. Jumlah 57 badak tersebut berkurang sebanyak 3 ekor badak dari jumlah total 60 ekor badak. Karena ditahun 2014 ditemukan 4 badak mati dan 1 kelahiran.Jurnalis Video : Darma Wijaya Editor : Ryan MaulanaNarator : Dwi Oktaviane