TEMPO.CO, Pangkalan Bun: Kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah provinsi di Indonesia pada musim kemarau 2015, termasuk hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. Salah satu kawasan yang di Kalimantan Tengah yang tak luput dari amukan api adalah hutan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting atau TNTP. Taman nasional ini seluas 415.040 hektare terdiri atas Suaka Margasatwa Tanjung Puting seluas 300.040 hektare, hutan produksi seluas 90.000, dan kawasan perairan seluas 25.000 hektare. Pada musibah kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting, seorang aktivis lingkungan bernama Basuki Budi Santosa dan rekannya Fajar Dewanto serta kawan-kawannya yang lain dengan gigih berjuang untuk meredam kawasan hutan di Taman Nasional Tanjung Puting dari amukan api. Basuki Budi Santosa adalah staf di Friends of The Nasional Parks Foundation. Basuki aktif menanam pohon di hutan di daerah Pesalat dan Beguruh, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Adapun rekannya yaitu Fajar Dewanto adalah direktur lapangan Orangutan Fondation Internasional. Untuk membantu melakukan pemadaman kawasan hutan yang diamuk si jago merah, Basuki dan Fajar mengerahkan kelompok masyarakat di sekitar taman nasional, yakni masyarakat Kumai dan Pangkalan Bun. Ada 53 orang, yang rata-rata bekerja di bidang wisata, seperti pramuwisata dan agen dan pemilik perahu klotok, ikut ambil bagian berangkat ke hutan untuk memadamkan api. Sementara masyarakat lainnya melakukan penggalangan bantuan dana di jalan-jalan.Basuki dan rekan-rekannya di Friends of The Nasional Parks Foundation, Fajar Dewanto dengan anak buahnya di Orangutan Fondation Internasional serta masyarakat yang berjumlah 60 orang berusaha memadamkan api bergantian siang dan malam. Basuki memilih metode memadamkan api menggunakan jetshooter yakni alat pemadam api manual. Kendala yang ditemui adalah sulitnya air sumber mata air. Akhirnya mereka menggali sumur dengan peralatan seadanya sedalam 2-3 meter. Sayangnya, airnya hanya cukup untuk mengisi beberapa kantong jetshooter dan langsung habis. Fajar menyiagakan anak buahnya yang berada di kamp OFI di Beguruh 1 dan Beguruh 2, kamp ini berada di tengah hutan, berjarak 10 kilometer dari dermaga Tanjung Harapan, di kawasan Pesalat, di taman nasinonal tersebut. Untuk memadamkan api, Fajar lebih memilih metode sekat bakar karena dianggap lebih bisa diandalkan untuk menghadang laju api. Menurut dia, sekat bakar juga tak terhalang kendala sulitnya air di hutan. Para relawan hanya sempat tidur beberpa jam jika kondisi api tak besar. Mereka tidur menggunakan hammock yang diikat di antara dua pohon, atau hanya beralaskan terpal.Basuki dan Fajar serta masyarakat setempat terus berjuang merekam amukan api sampai hujan yang kedua pada 29 Oktober turun dengan lebat. Layaknya menyambut kemenangan, para relawan bersorak sorai, berlarian sambil membawa bendera merah putih saat hujan turun. Hari itu, para relawan lebih dulu pulang meninggalkan hutan setelah yakin api benar-benar padam oleh curah hujan yang lebat. Jurnalis Video: Nur HaryantoVideo: Dokumentasi Friends of The Nasional Parks Foundation dan Orangutan Foundation International, Nur HaryantoEditor dan Narator: Ngarto Februana