TEMPO.CO, Semarang: Sejumlah pandita berkelompok di depan altar, tengah membaca parita pada upacara menaikkan dewa di Klenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Semarang. Mereka membunyikan musik parita yang khas negeri Tiongkok mengiringi sang ketua mengelilingi klenteng. Pembacaan parita ini sebagai bentuk permohonan agar semua acara berjalan lancar. Sementara itu ketua yayasan klenteng menyalakan hio berdoa demi kelancaran acara. Upacara menaikkan dewa merupakan ritual yang mengawali rangkaian kegiatan perayaan tahun baru Imlek. Menurut kepercayaan warga Tionghoa, sebelum pergantian tahun, dewa-dewa akan naik ke langit menghadap Tuhan Yang Maha Esa untuk melaporkan amal perbuatan manusia. Untuk mengantarkan dewa ke langit, warga Tionghoa akan membakar kertas emas atau Kim Cua. Dengan membakar kerta emas ini dipercaya umat memberikan kepingan uang emas kepada para dewa. Ketua Yayasan Klenteng Tay Kak Sie Semarang Tanto Hermawan mengatakan sembahyangan ini dimulai dengan membaca parita untuk minta doa restu agar semua berjalan lancar. Klenteng Tay Kak Sie sebagai klenteng yang besar, para dewa-dewi naik ke langit untuk melapor semua perbuatan manusia. Sementara di Klenteng Siu Hok Bio sejumlah warga Tionghoa juga menggelar upacara serupa. Mereka bersama-sama membakar kertas emas untuk mengantarkan dewa ke langit. Uniknya mereka membakar di atas tampah dan memutarnya berlawanan arah jarum jam. Debu-debu pun beterbangan ke atas klenteng. Jurnalis Video: Budi Purwanto (Semarang)Editor: Denny SugihartoNarator: Ngarto Februana