TEMPO.CO, Serang: Proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta untuk membangun 17 pulau berdampak pada nelayan yang berada di pesisir laut utara Banten, tepatnya di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang.Rabu siang, ratusan nelayan dan petani rumput laut di desa Lontar melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Provinsi Banten. Mereka menuntut kepada komisi IV DPRD Provinsi Banten untuk mengusut perizinan aktifitas penambangan pasir laut yang diduga ilegal.Diakui nelayan, adanya aktifitas pengerukan pasir laut di zona tangkap laut Perairan Lontar yang dilakukan perusahaan swasta sejak tahun 2004 mengakibatkan kerusakan pada biota laut seperti kekeruhan air laut, jaring nelayan yang rusak hingga terjadinya abrasi. Akibatnya mata pencaharian nelayan untuk menangkap ikan kian sulit.Najib salah satu nelayan mengatakan, dalam sehari 6000 kubik pasir laut diperairan Lontar, Kabupaten Serang dikeruk menggunakan kapal besar milik perusahaan PT. Jet Star. Ribuan kubik pasir laut tersebut diduga diangkut ke Jakarta menggunakan kapal yang diduga untuk kepentingan para pengusaha yang melakukan reklamasi di teluk Jakarta. Aktifitas pengerukan pasir laut tersebut sudah terjadi sejak tahun 2004 dan sudah mengancam mata pencaharian nelayan di Lontar selama pengerukan pasir laut terjadi.Wwc : Najib ( Nelayan )Terkait dengan tuntutan penolakan aktifitas penambangan pasir laut kepada pihak DPRD Provinsi Banten, para nelayan tidak bisa menemui langsung anggota DPRD Provinsi Banten untuk menyampaikan tuntutan meraka. Namun bebrapa orang staf dari DPRD Provinsi Banten yang menemui para nelayan berjanji akan menyampaikan tuntutan tersebut kepada anggota komisi IV DPRD Provinsi Banten.Jurnalis Video : Darma WijayaEditor/Narator : Ryan Maulana