TEMPO.CO, Jakarta: Salah satu agenda yang ditawarkan dalam acara "Night time Journey at Museum ' oleh Komunitas Jelajah Budaya (KJB) pada Sabtu 9 juni 2012 selain berkeliling ke museum bank mandiri pada malam hari, yaitu sebuah sesi makan malam ala Belanda atau yang dikenal dengan Rijsttafel (dibaca \"reisttafel\"). Museum Bank Mandiri, yang berlokasi di kawasan kota tua Jakarta yang dahulu bernama Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) masih tampak kokoh dan megah dengan arsitektur Art Deco Klasik.Para peserta "Night time Journey at Museum" diarahkan masuk ke salah satu ruangan yang berada pada bagian tengah museum. Ruangan yang cukup besar ini disulap menjadi sebuah ruang perjamuan makan makan ala Belanda atau yang dikenal dengan Rijsttafel (dibaca \"reisttafel\"). Rijstaffel terdiri dari dua suku kata, rijst mengandung arti nasi, sedangkan tafel adalah meja, gabungan kedua kata tersebut secara sederhana diartikan sebagai hidangan meja.Rijsttafel merupakan cara penyajian makanan berseri dengan menu dari berbagai daerah di Nusantara yang berkembang dari kolonial Hindia Belanda yang mengadopsi kebiasaan makan menggunakan menu utama dengan nasi. Konon cara makan yang cukup mewah ini, pertama kalinya terekam oleh utusan VOC yaitu Rijkloft van Goen yang melihat ritual yang amat mirip dilakukan di istana Mataram pada saat jaman kejayaan Raja Amangkurat I (1646-1677).Rijsttafel kali ini dilakukan di salah satu ruangan yang berada pada bagian tengah museum bank mandiri. ada sembilan buah meja makan bundar yang dibalut dengan kain putih. Tiap meja terdiri dari tujuh buah kursi yang disusun melingkar. Di atas meja tertata rapi piring, sendok-garpu, gelas, dan satu sisir pisang. Pada bagian depan ruangan terdapat panggung tempat bagi para musisi yang bertugas mengalunkan lagu-lagu sebagai teman santap malam bagi para tamu.Tibalah saatnya para jongos menghidangkan menu \"rijstaffel\". Istilah jongos sendiri berasal dari bahasa Belanda yakni jongens, yang memiliki arti anak laki-laki. Para jongos yang jumlahnya belasan orang ini bertugas mengantarkan dan sekaligus menyajikan menu hidangan kepada para tamu, yang mana tiap-tiap jongos membawa salah satu menu. para jongos mengenakan pakaian seragam yang terdiri dari baju koko, celana batik, blangkon, dan kain sarung yang dikatkan di pinggang. Salah satu hal yang menarik dari para jongos yakni ketika mereka bertugas, mereka tidak menggunakan alas kaki alias \"nyeker\".Menu yang dihidangkan para jongos cukup beragam, terdiri dari nasi, perkedel, daging gepuk, tempe orek, sambal, kerupuk, dan sop daging. Namun sebelum menjamu para tetamu, para jongos terlebih dahulu berputar-putar mengitari tiap-tiap meja sambil membawa menu hidangan. Secara berurutan mereka menyuguhkan hidangan yang dimulai dengan nasi, kemudian dilanjutkan dengan menu lainnya dan diakhiri dengan menyuguhkan sop daging.Pesta makan malam ala Belanda-pun dimulai. Dengan diiringi suguhan lagu-lagu jaman dulu dan ditambah dengan balutan sinar lampu yang temaram, membuat atmosfer ruangan malam itu semakin klasik seperti balik ke masa-masa kolonial Belanda.Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE