TEMPO.CO, Jakarta: Dalam rangka memperingati Hari Ianfu sedunia, sebuah pameran seni bertajuk Kitab Visual Ianfu digelar di Galeri Cemara 6, Jakarta Pusat, 9-23 Agustus 2016. Pameran yang diselenggarakan oleh Komite Ianfu Indonesia bersama dengan penulis dan peneliti independen ini menampilkan kreasi seni 12 seniman lokal. Karya seni menampilkan penderitaan Ianfu selama penjajahan Jepang. Ianfu adalah eufemisme Jepang untuk prostitusi, yang secara harfiah diterjemahkan menjadi comfort women atau wanita penghibur, yang lebih umum digunakan saat ini. Koleksi ini menyediakan cerita yang kuat dari korban perang, yakni perempuan yang dipaksa memenuhi kebutuhan seksual tentara Jepang selama Perang Dunia II.Selama penjajahan Jepang, orang Jawa menyebut Ianfu sebagai cah nakal, yang berarti gadis nakal. Banyak yang berpikir bahwa mereka secara sukarela menjadi wanita penghibur. Pada kenyataannya mereka diiming-imingi akan diberi pekerjaan yang layak, tapi banyak di antara mereka diculik dan dijadikan wanita penghibur. Instalasi seni ini menjadi jembatan antara sejarah dan pengunjung, menyediakan informasi tentang kekejaman terhadap perempuan yang dijadikan wanita penghibur. Para seniman telah berhasil melukiskan salah satu sisi gelap dari sejarah kita.Jurnalis Video dan Pengisi Suara: Dewi Kirana