TEMPO.CO, Jakarta : Saat melintas di jalan K.S Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, kita tidak pernah menyangka jika disekitar daerah tersebut terdapat sebuah Taman Pemakaman Umum yang terbilang sangat tua. Dari tampak depan yang terlihat hanyalah gedung pengelola TPU dan tembok tinggi yang mengelilingi komplek pemakaman.Tim Tempo bersama komunitas Love Our Heritage (LOH) mengunjungi TPU Petamburan, dan langsung disuguhkan dengan pemandangan komplek pemakaman yang luas dan tertata rapi. Pemakaman unit Kristen Petamburan ini mayoritas yang dimakamkan adalah warga keturunan Tionghoa, meski demikian ada juga beberapa makam orang Jepang, Belanda, Batak, bahkan makam Yahudi.Ada salah satu makam yang sangat berbeda dengan makam yang ada disekitarnya, makam ini memiliki kubah atau pelindung makam yang sangat megah yang biasa disebut sebagai Mausoleum (musoleum) dan sudah ada sejak tahun 1927.Kalau diperhatikan makam yang ada disekitarnya rata-rata juga didesain menggunakan atap sebagai pelindung makam, mausoleum Oen Giok Khouw terbuat dari bahan marmer hitam dan memiliki tinggi kurang lebih 9 meter.Oen Giok Khouw lahir pada 13 Maret 1874 dan wafat di Ragaz, Swiss, pada 1 Mei 1927. Sebagai tanda cinta terhadap suaminya, Lim Sha Nio istri dari O.G Khouw membangunkan sebuah Mausoleum yang megah dan membutuhkan waktu 3 tahun untuk menyelesaikannya.Bangunan Mausoleum yang masih berdiri kokoh nan megah ini oleh Pemda DKI Jakarta belum ditetapkan sebagai benda cagar budaya.Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE