TEMPO.CO, Pulang Pisau - Desa Jabiren di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, sejak 1995 sudah empat kali menjadi sasaran kobaran api, pada musim kemarau panjang. Kebakaran besar terakhir pada tahun 2012 diperkirakan melalap habis 3 ribu hektare hutan dan lahan gambut. Seperti desa-desa lain di Kalimantan, tanah Jibiren merupakan lahan gambut, yang gampang tersulut api. Tidak hanya memaksa balita, ibu hamil, dan lansia mengungsi karena asap, api juga membakar pohon-pohon karena yang merupakan sumber penghasilan penduduk.Tak ingin kebun disambar api lagi, warga Jabiren lalu bahu-membahu membuat parit sedalam 1,5 meter dan lebar 2 meter. Parit ini mirip selokan yang alirannya bersumber dari Sungai Kahayan, yang melintasi Desa Jabiren. Untuk mencegah agar air tak surut di musim kemarau, petani Desa Jabiren membuat empat bendungan di tengah selokan berbentuk sederhana, dengan timbunan tanah di kedua sisi parit hingga menyisakan ruang selebar satu meter. Belasan lembar kayu ulin menopang timbunan tanah sekaligus menjadi pintu bendungan. Bila curah hujan tinggi, pintu bendungan dibuka. Sayangnya daya jangkau kanal ini cuma bisa menyemburkan air pada titik api yang berjarak 100 meter dari bibir selokan selama tiga jam saja. Sementara bara bisa menyala selama berhari-hari.Penduduk menangkal api yang jauh dari parit dengan mengebor sumur sedalam 20-25 meter. Pada kedalaman itu, sumber air amat melimpah dan tak ada habis-habisnya meski sumur menganggur. Ongkos pembuatan sumur itu, yang mencapai Rp 2,5 juta rupiah per titik, ditanggung petani secara gotong royong.Alhasil, inisiatif warga Jabiren tersebut menyelamatkan desa mereka dari bencana kebakaran hebat tahun lalu. Tak cukup memadamkan api dengan sumur bor dan parit buatan, penduduk gigih merestorasi bekas lahan yang terbakar, yang kini lahan-lahan itu ditanami karet.Kepala Desa Jabiren, Asio Harnesan Unil, mengatakan masyarakatnya peduli pada kelestarian hutan dan lahan gambut karena trauma pada bara yang merenggut kebun mereka. Videografer: NurdiansyahNarasi: Raymundus RikangEditor dan Pengisi Suara: Ngarto Februana