TEMPO.CO, Jakarta: Adanya informasi keluhan konsumen terhadap takaran BBM yang dirasa tidak sesuai di beberapa SPBU di Jabodetabek membuat YLKI melakukan penelitian dengan mengambil sampel 48 SPBU dari 900 SPBU yang ada di Jabodetabek. Hasilnya, dari 229 nozzle di 48 SPBU yang diuji takar terdapat 20 nozzle yang melebihi batas toleransi standar Pertamina.Dalam talkshow "Hasil Uji Petik Takaran Serta Standard Layanan di SPBU, " di Jakarta pada Senin, 21 November 2016, Pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, takaran yang pas merupakan harga mati yang tidak boleh ditolerasi pada tiap SPBU.Dari hasil temuan itu, YLKI merekomendasikan SPBU yang takaran nozzle atau dispensernya belum memenuhi standard, diharapkan segera melakukan tera ulang. Tera ulang terhadap sebuah nozzle diharapkan dua kali dalam setahun. Selain itu, untuk informasi kepada masyarakat, pada SPBU perlu dipasang spanduk dan stiker bahwa "Konsumen Berhak Meminta Uji Takaran Ulang Apabila Merasa Ragu pada Takaran BBM yang Dibelinya."Selain pengukuran takaran nozzle, dalam hal pelayanan dan fasilitas lain dalam SPBU hasilnya cukup memprihatinkan mengenai toilet dan mushola. Dari 48 SPBU yang di datangi, hanya 6 SPBU yang mempunyai fasilitas toilet yang memadai. Sedangkan untuk mushola, hanya 4 SPBU yang sesuai dengan harapan konsumen.Video Jurnalis: Maria FransiscaEditor/Narator: Ryan Maulana