TEMPO.CO, Taiwan: Di tengah Samudera Pasifik, Supriyanto, ABK Indonesia di kapal Taiwan meninggal dunia. Pada September 2015, ia dipulangkan kembali ke kampungnya di Tegal, Jawa Tengah. ABK di kapal Fu Tzu Chunasal Taiwan itu meninggal setelah berulang kali dianiaya. Taiwan masuk tiga besar dunia negara penangkap tuna dan berlayar di 30 negara. Industri perikanan Taiwan menghadapi masalah perdagangan manusia dan pekerja paksa. Ada 160 ribu pekerja asing yang bekerja di kapal-kapal Taiwan. Seperti Supriyanto, lebih dari 40 ribu ABK Indonesia bekerja di kapal Taiwan tanpa dokumen asli. Mereka bekerja 17 - 22 jam setiap harinya dan rentan diperlakukan buruk. Sebagian bahkan hanya dibayar 0,15 dolar per jamnya. Jika dianggap tak bagus bekerja, mereka dipukul, diikat dan disetrum. Akibat perlakuan buruk, salah satu ABK Indonesia di kapal Taiwan, Visa Susanto gelap mata. Pertengahan Juli 2013, Visa mengajak 7 ABK Indonesia membunuh kapten kapal dan kepala teknisi kapal Te Hung Hsing 368. Februari 2014, Visa dihukum 28 tahun penjara. Tujuh rekannya divonis 3 tahun hingga 22 tahun penjara.Tim Investigasi Majalah TempoProduser Video: Sadika HamidEditor: Ryan Maulana