TEMPO.CO, Flores Timur: Fandi, pemuda berusia 23 tahun, sebagai Boi-boi atau ahli ikan, bersiaga selama berjam-jam di atas Kapal Motor Flotim 17 GT 22 Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Kapal motor itu terus bergerak menerjang ombak, mengelilingi laut lepas Flores yang sangat ganas. Fandi sesekali melempar umpan hidup ikan teri tembang ke tengah laut. Terkadang ia menggunakan teropongnya untuk memantau pergerakan kawanan burung laut dan ikan lumba-lumba, sebagai penunjuk keberadaan ikan tuna, cakalang dan tongkol. Ikan-ikan yang masuk dalam keluarga ikan Pelagis besar. Seorang Boi-boi bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan kapten dan kru kapal, untuk menangkap ikan tuna dengan metode Huhate atau Pole and Line, yakni memancing dengan cara tradisional berkelanjutan yang ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem. Untuk mendapatkan hasil tangkapan besar hingga berton-ton, mereka rela berjuang berhari-hari dengan berlayar di tengah laut. Tidak jarang antar-nelayan terjadi perkelahian ataupun menabrakkan kapal dengan kapal lain di tengah malam, untuk berebut mendapatkan umpan ikan tembang dari bagan-bagan apung, yang kemudian dijual dengan harga lima ratus ribu hingga satu juta rupiah per ember.Jurnalis Video: Imam SukamtoEditor: Andy PrayogoPengisi Suara: Maria Fransisca