TEMPO.CO, Jakarta:Fotografer Dhemas Reviyanto Atmodjo memposisikan dirinya melebihi empati ketika berjumpa dengan para tunanetra. Bagi Dhemas, mata adalah panca indera terpenting dalam mengindentifikasi berbagai bentuk. Bertolak dari situlah dia mencoba memvisualisasikan imaji yang ditangkap para tunanetra ke dalam visualisasi orang yang bisa melihat.Dhemas lantas memilih beberapa rekan tunanetra dengan kriteria tertentu, yakni mereka yang mengalami kebutaan ketika dewasa. Mereka yang memiliki perbandingan saat masih bisa melihat dan setelah tak lagi punya kemampuan melihat.Sebagai indikator, Dhemas kemudian merujuk pada suatu obyek seperti bentuk, warna, tingkat keburaman, dan instrumen lain yang muncul pada sebuah visualisasi. Untuk merujuk proses tersebut, ada tolok ukur secara medis yang disebut visus.Visus adalah ketajaman atau kejernihan penglihatan atas sebuah bentuk yang spesifik. Ketajaman atau kejernihan itu bergantung pada ketepatan retina memantulkan fokus berupa bentuk yang diterima otak. Lalu, otak menginterpretasikannya ke dalam pandangan.Visus dapat terukur melalui pemeriksaan mata secara medis. Bagi seorang tunanetra, visus diyakini tidak memiliki ukuran alias nihil. Namun kenyataannya kebutaan ada berbagai bentuk dan beragam terjemahan gambar di mata masing-masing tunanetra. Pada mereka yang low vision masih ada sedikit gambar yang bisa diterima mata. Sedangkan pada mereka yang total lost vision ternyata tetap memiliki perbedaan visualisasi pada mata.Hasilnya, dunia pandangan para tunanetra tidak melulu gelap. Kamera Dhemas mengkomunikasikan mata para tunanetra dengan dunia yang masih terlihatTeks: Cheta NilawatyProduser: Sadika HamidEditor: Andy