TEMPO.CO, Sleman: Puncak perayaan hari raya Waisak 2561 be selain digelar di Candi Borobudur, Magelang juga digelar di Candi Sewu, komplek Candi Prambanan. Ribuan umat Budha dari sejumlah daerah seperti, Yogyakarta, Klaten, Boyolali hingga Solo, tumpah ruah di pelataran candi yang dibangun pada abad delapan tersebut.Ritual Pradaksina yakni berjalan mengelilingi candi-candi Sewu searah jarum jam sebanyak satu kali tepat pukul 02.00 wib dini hari mengawali prosesi menuju puncak detik-detik perayaan Waisak. Pradaksina yang memiliki makna sebagai doa keselamatan untuk umat manusia tersebut dipimpin oleh upasaka sakti dwipangkara.Usai melakukan pradaksina, peringatan Waisak kemudian dilanjutkan dengan membacakan kitab-kitab suci Budha yakni Gatra, Parita dan Sutra yang diikuti oleh seluruh umat yang hadir. Di kalangan umat Budha sendiri, perayaan waisak adalah untuk memaknai tiga peristiwa penting yakni hari kelahiran Budha Gautama, pencapaian penerangan sang Budha dan wafatnya sang Budha Gautama yang dikenal dengan Tri waisak.Seperti perayaan pada tahun-tahun sebelumnya, altar pemujaan kepada para dewa dihiasi dengan kain berwarna kuning, sehingga altar terlihat terang benderang dengan latar candi Sewu. Rangkaian waisak sendiri secara nasional dipusatkan di Candi Borobudur dengan prosesi pokok meliputi pengambilan air suci dari mata air Umbul Jumprit di Temanggung Jawa Tengah disusul kemudian penyalaan api obor dari api abadi dari Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah.Jurnalis video: Hand WahyuEditor/Narator: Ryan Maulana