TEMPO.CO, Yogyakarta: Puluhan anggota Satradar 215 TNI AU Congot, Kulonprogo, Yogyakarta sejak pagi hari mulai melakukan instalasi radar pengintai yang diboyong dari mabes TNI Jakarta.Dengan datangnya radar jenis Weible MR II, maka alusista TNI angkatan udara Indonesia sudah mampu menyamai kekuatan pengintaian milik militer Amerika Serikat dan Rusia. Radar senilai 190 milyar rupiah ini diklaim mampu mengamankan pertahanan udara dan perbatasan laut di laut selatan Indonesia.Keberadaan radar Weible terhitung penting dalam mendukung tugas TNI angkatan udara, mengingat banyak kasus infiltrasi pesawat maupun kapal tanpa identitas yang melintas di zona Indonesia. Radar buatan Denmark tahun 2014 ini tetap mampu melacak pesawat, kapal laut dan kapal selam yang sengaja mematikan transporder.Dual mode radar primmary surveillance radar (PSR) dan secondary surveillance radar (SSR) menggantikan radar pendahulunya berjenis Plessey AWS II produksi tahun 1962 buatan perancis yang sudah menurun kemampuannya, selain hanya mampu membaca obyek dalam bentuk titik, pesawat berkecepatan cepat sudah tak mampu terdeteksi bahkan jangkauannya sudah terbatas dan tak mampu mendeteksi pesawat siluman.PSR mampu menangkap dan mengidentifikasi target yang bergerak diwilayah udara tanpa transponder atau radius 15 nautical miles atau sekitar 300 kilometer. Sementara SSR dapat memantau target yang bergerak menggunakan transponder dalam radius 165 nautical miles atau sekitar 550 kilometer.Radar Weible memiliki kemampuan tracking hingga sejauh 600 kilometer ini juga dapat terkoneksi dengan rudal anti udara untuk menghentikan pergerakan musuh.Setelah radar ratusan milyar rupiah Weible dinyatakan siap operasi pada awal agustus tahun ini, maka radar serupa akan dipasang di beberapa pangkalan radar di pulau Jawa seperti Tegal, Ngliyep dan Ploso Jawa Timur.Radar Weible bersifat mobile sehingga mampu dipindahkan ke segala medan pertempuran saat dibutuhkan oleh militer Indonesia dalam menghadapi ancaman dari luar.Jurnalis Video: HandwahyuEditor/Narator: Ridian Eka Saputra