TEMPO.CO, Jakarta: Menjadi korban biro perjalanan umrah First Travel rupanya harus saling tolong menolong antar-sesama korban. Selain berbagi cerita terbaru di grup chatting antar-sesama korban, sebagian dari mereka tampak ikhlas menjadi relawan memilah-milah paspor milik calon jemaah yang disita oleh Bareskrim dari pihak First Travel. Ribuan paspor calon jemaah yang batal berangkat ke Tanah Suci itu kini bertebaran di lantai 1 gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Pusat. Tidak mudah bagi korban First Travel untuk menemukan paspornya masig-masing. Di antara para korban penipuan itu saling menolong untuk mencarikan paspor. Pada Rabu, 30 Agustus 2017, tampak beberapa ibu menuliskan nama-nama yang tertera di paspor pada sebuah kertas kosong. Mereka menghadapi sebuah kontainer plastik berukuran besar yang berisi ratusan paspor. Kotak itu berdasarkan nama penanggung jawab keberangkatan mereka. Beberapa kotak sudah diidentifikasi. Maka, pada salah satu sisi kotak ditempelkan kertas bertulis nama pemilik paspor. Bagi pencari paspor dipersilakan melihat daftar di atas kotak masing-masing. Rupanya hal tersebut masih merepotkan para pencari paspor. Selain banyaknya kotak yang belum diidentifikasi, kotak yang telah diidentifikasi belum tentu terpasang penutup yang sesuai. Selain itu, kegiatan pencarian paspor telah berlangsung sejak hari Jumat, 25 Agustus 2017. Niat baik merapikan belum tentu terjaga. Akhirnya, seorang korban First Travel, Mohamad Nur Hidayat, 55 tahun, menawarkan opsi lain, yaitu membagi-bagi menurut abjad. Sebagian korban yang hadir menyetujui ide Nur kemudian menjalankannya. Bagi Nur, ide itu membuahkan hasil yang signifikan, ia bisa menemukan 15 paspor dari 16 paspor yang mesti dicari.Jurnalis Video: Maria FransiscaEditor: Ngarto Februana