TEMPO.CO, Jakarta - Dengan motor seberat 350 sampai 400 kilogram, di antara kemacetan Jakarta, maka tak heran jika pengendara motor besar atau moge terkesan arogan.

Arogan di sini, maksudnya ugal-ugalan berkendara atau ingin selalu didahulukan. Padahal menurut Sekjen Harley Davidson Club Indonesia (HDCI)Tangerang, Andry Desuardi, tidak begitu.

Hal lain, yang membuat pengendara moge tampak arogan adalah jarangnya motor besar ini lalu lalang di jalan raya. Andry menjelaskan hanya karena penampakannya dan suaranya yang besar, juga munculnya rame-rame, maka kesan itu muncul, padahal kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas moge sangat.

Meski begitu, menurut Andry, untuk mencegah kesan arogan itu, HDCI memiliki pelatihan setiap tiga bulan sekali, terutama untuk member baru. Dari pelatihan mengendara, sampai pelatihan berambu lalu lintas. Hal ini dilakukan agar para member baru tidak urakan pada saat di jalan raya.

Untuk berkendara di jalan raya sendiri, komunitas HDCI memiliki aturan bagi anggota yang tidak mematuhi peraturan atau bersikap ugal-ugalan saat berkendara.

Teguran itu sendiri tergantung seberapa parah sang pengemudi berperilaku di jalan raya. Jika ternyata sangat merugikan atau membahayakan bisa saja dikeluarkan dari keanggotaan.

Video: Maria Fransisca
Naskah: Ammy Hetharia
Editor/Narator: Ridian Eka Saputra