TEMPO.CO, Jakarta - Realisasi program bahan bakar minyak satu harga per 1 November 2017 belum mencapai 50 persen dari target tahun ini. Pelaksana Harian Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, Saryono Hadiwidjoyo, mengatakan saat ini baru 26 penyalur yang beroperasi dari target 54 penyalur pada tahun ini.

Adapun 26 titik itu tersebar mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Masih ada 10 titik lagi yang saat ini sudah direncanakan namun masih belum masuk ke tahap pembangunan. Sepuluh penyalur ini sedang dalam proses perizinan untuk bisa membangun stasiun penyalur.

Sementara itu, anggota Komite BPH Migas Ibnu Fajar, mengatakan BPH Migas optimistis target yang dicanangkannya hingga akhir tahun itu bakal segera tercapai.

Apabila program itu telah berjalan, nantinya harga BBM di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) bakal dibanderol sama seperti di daerah lainnya, yakni Premium dengan harga Rp 6.450 per liter dan Solar Rp 5.150 per liter.

Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 36 Tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis BBM Tertentu dan Jenis BBM Khusus Penugasan Secara Nasional. Pemerintah menugaskan Pertamina merealisasikan BBM satu harga di seluruh wilayah Indonesia sejak 1 Januari 2017.

 

 

 

Jurnalis Video: Caesar Akbar

Editor/Narator: RIdian Eka Saputra