TEMPO.CO, Brasil - Zat halusinogen ayahuasca terbuat dari dua tanaman yang ada di hutan Brasil. Di Rio de Janeiro dan negara bagian Brasil lainnya, banyak gereja ayahuasca menanam dua bahan tanaman dan memproduksi minuman tersebut. Di gereja Casa de Maria Damião di Rio, relawan mengerjakan tugas tersebut. Salah satu bahannya adalah bawang Banisteriopsis caapi.

Pemimpin gereja tersebut, Julio da Mata, menjelaskan bahwa mereka menanam dua tanaman untuk membuat teh yang disebut sebagai daime atau ayahuasca. Cara membuatnya adalah dengan merebus bersama-sama daun tanaman Psichotria viridis dan ramuan Banisteriopsis yang dicincang. Memasaknya butuh waktu berjam-jam. Resep tersebut telah diturunkan secara turun-temurun oleh keluarga di Amazon Barat. Memetik daun dan tanaman merambat itu dianggap sebagai bagian dari ritual.

Penggunaan teh itu legal di Brasil, tapi hanya untuk tujuan spiritual dan keagamaan. Banyak pengguna mengklaim manfaat dari ramuan itu, antara lain bisa menyembuhkan kecanduan alkohol dan obat-obatan. Salah seorang yang merasakan manfaat teh itu adalah Alberto Cardoso, yang mengaku kecanduan alkohol.

Di Rio de Janeiro ada sekitar 30 kelompok spiritual dan agama yang menggunakan ayahuasca secara berkala dalam ritual mereka. Ada yang beragama Kristen, beberapa pribumi, yang lain percampuran tradisi yang berbeda dari beberapa agama.

Sementara itu, Asosiasi Psikiatri Brasil memperingatkan bahwa teh tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai obat rekreasi karena bahaya overdosis.

Penemuan terbaru tentang komponen ayahuasca terjadi di Laboratorium Induced Pluripotent Stem Cell di institut IDOR di Rio. Laboratorium ini mengkhususkan diri dalam pembuatan organoid serebral, yang juga dikenal sebagai otak mini. Dengan otak mini itu, ilmuwan menguji obat eksperimental pada jaringan otak nyata tanpa risiko. Melalui otak mini itu juga, ilmuwan menguji psychedelics dari teh.

Tes terbaru oleh tim di sini menunjukkan bahwa Dimethyltryptamine (DMT), psikedelik yang ditemukan di daun Psychotria viridis dan ayahuasca, mampu memodifikasi otak mini yang berkembang dengan cepat di laboratorium.

Ilmuwan saraf Vanja Darkic dan Stephens Rehen yang melakukan penelitian zat ini sebelumnya pada tahun 2016, menemukan zat ditemukan di tanaman Banapiipsis caapi dan di ayahuasca, dapat merangsang pertumbuhan sel otak. Studi tersebut meningkatkan harapan penggunaan potensi ayahuasca untuk berbagai kondisi otak.

 

 

 

Video dan Teks Narasi: Associated Press

Editor/Narator: Ridian Eka Saputra