Minggu, 18 November 2018

TEMPO.CO, Bandung - Oven-oven penggarang kopi buatan tahun 1930 itu terus berputar. Tungku berbahan bakar kayu karet menjilat seluruh permukaan oven berbentuk bola dengan sempurna. Dua jam kemudian para pekerja membuka bola-bola baja tersebut dan menumpahkan sekitar 100 kilogram biji kopi matang ke bak pendinginan. Asap putih tebal membubung menebar aroma wangi kopi arabika dan robusta yang telah diperam selama 5 dan 8 tahun dalam karung goni tersebut.

Widyapratama, generasi kedua pengelola kopi Aroma di Bandung, mengatakan semua proses dikerjakan sesuai dengan tradisi orang tuanya.

Harga kopi arabika Rp 25.000 per 250 gram dan robusta Rp 20.000. Para pelanggannya rela antre sejak pagi hari saat toko masih tutup agar mendapat pelayanan paling awal. Pabrik sekaligus toko yang tidak membuka cabang serta tidak memasarkan produknya secara daring ini konsisten menjalankan bisnisnya secara tradisional.

Potensi ekonomi kopi nasional belum tergarap optimal padahal pangsa pasarnya sangat tinggi dalam tiga tahun terakhir ini. Tahun ini diperkirakan produksi total kopi nasional turun 0,28 dibanding tahun lalu sebesar 689.460 ton. Indonesia merupakan negara ke empat penghasil kopi paling besar di dunia.

Menurut Widyapratama, kopi-kopi di pabriknya mendapat pasokan dari perkebunan-perkebunan kopi dari seluruh Indonesia, khususnya di Jawa Barat, yang sejak masa Hindia Belanda merupakan mitra-mitra turun temurun sejak era tahun 1930an

Jurnalis Video: Prima Mulia
Editor: Farah Chaerunniza