TEMPO.CO, Lebak, Banten - Museum Multatuli resmi dibuka untuk umum. Peresmian Museum Multatuli dilakukan di Rangkasbitung, Lebak, Banten, tempat Multatuli menulis buku kepada Kolonial Belanda, karena menentang kolonialisme di Indonesia.

Multatuli adalah warga Belanda, bernama asli Eduard Douwes Dekker, yang menentang penindasan dan kekejaman Belanda terhadap pribumi di Tanah Air. Ketika Multatuli menjabat sebagai Asisten Residen di Lebak, Banten, Multatuli menyaksikan sendiri kekejaman kolonial Belanda terhadap warga pribumi.

Untuk itu Multatuli melakukan perlawanan dengan meminta kerajaan Belanda menghentikan aksi kekejaman tersebut. Di Museum Multatuli, Anda bisa mengetahui lebih jauh tentang sosok Multatuli, termasuk menyaksikan melihat secara langsung buku Multatuli yang dihibahkan negara Belanda untuk museum tersebut. Berbagai macam cerita dan perjuangan masa lalu soal penindasan bisa juga dilihat di museum ini.

Dalam peresmian Museum Multatuli ini turut hadir penulis sejarah dunia dari Belanda, para ahli sejarah dari Korea, serta perwakilan Duta Besar Belanda.

Selain itu juga terdapat foto penyair Rendra, pahlawan Tan Malaka, sastrawan Pramoedya Ananta Toer, serta ibunda rocker terkenal asal Amerika Van Hallen dan David Lee Roth yaitu Eugenia Van Beers. Dalam barisan foto-foto tersebut mereka adalah tokoh yang bersentuhan dengan Rangkasbitung.
Di Museum Multatuli ada perpustakaan Saidjah-Adinda yang mengoleksi buku-buku terbitan Multatuli, termasuk patung Multatuli diapit patung Saidjah-Adinda.

Penggagas museum sejarawan di Banten, Bonnie Triyana, mengatakan Museum Multatuli adalah museum di luar pelajaran sekolah dan mengedukasi sejarah kepada anak-anak milenial untuk menghargai peran para pahlawannya.

Jurnalis Video: Darma Wijaya
Editor/Narator: Zulfikar Epriyadi