Selasa, 23 Oktober 2018

Setiap hari sejak gempa mematikan melanda Sulawesi Tengah pada 28 September lalu, Ajiz Husen Bansir, 40 tahun, terus mencari putrinya, Hanaya, 4 tahun. Bansir percaya putrinya masih hidup.

Hanaya terakhir terlihat di dekat pantai ketika gelombang tsunami hingga 6 meter menerjang pantai pulau itu setelah gempa berkekuatan 7,4 skala Richter.

"Dia bersama bibinya dan saya tidak tahu apa-apa setelah itu karena kami terpisah dan ombak sudah tinggi," kata nenek Hanaya, Joharia, yang selamat dari bencana dengan luka ringan.

Hanaya bersama nenek serta bibi dan pamannya ketika gempa menghantam. Mereka pergi ke luar untuk mengisi kembali wadah air, dan ketiganya masih hilang.

Bansir sedang bermain sepak bola di lingkungannya saat itu, dan istrinya, ibu Hanaya, sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Dia jatuh dari sepeda motornya saat tanah bergetar, tapi selamat.

Bansir telah memasang selebaran, mengunjungi kamp-kamp evakuasi, dan melaporkan bahwa Hanaya hilang. Namun sejauh ini tidak ada hasilnya. "Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan sekarang," katanya.

Video/Narasi: Reuters
Editor: Ngarto Februana