Pihak berwenang Indonesia bekerja untuk meningkatkan sistem peringatan dini setelah tsunami melanda Selat Sunda Sabtu lalu. Tsunami yang mematikan tersebut datang tanpa peringatan. Tidak ada yang tahu bahwa gelombang setinggi 20 meter menuju pesisir Banten.

Penyebab utama adalah letusan Anak Krakatau, gunung berapi yang muncul kurang dari 100 tahun yang lalu. Warga setempat mengatakan bahwa karena gemuruh dan letusan adalah kejadian umum. Mereka tidak curiga terhadap letusan Anak Krakatau baru-baru ini.
Letusan terakhir Krakatau berada di tempat yang persis sama pada tahun 1883 - 135 tahun yang lalu. Letusan itu menghasilkan gelombang besar, yang menewaskan ratusan ribu orang.

Kali ini, tsunami melanda pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, pukul 21.27 WIB, setelah letusan gunung berapi Anak Krakatau yang memicu tanah longsor bawah laut, yang menyebabkan kenaikan permukaan laut secara tiba-tiba.

Ahli geologi dari Kementerian Energi, Ratdomo Purbo, mengatakan, "Kami masih berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan fenomena baru ini. Aktivitas Krakatau sendiri tidak menyebabkan tanah longsor. Kami percaya itu karena banyak faktor. Pada saat tanah longsor itu terjadi, ada juga hujan lebat dan letusan gunung berapi. Semua itu dikombinasikan menghasilkan tanah longsor bawah air yang kuat yang menyebabkan tsunami."

"Peralatan kami di pusat gempa dan tsunami perlu diperbarui dan lebih maju. Kami berharap bahwa di masa depan kami dapat memberikan peringatan lebih cepat, tidak hanya untuk tsunami yang disebabkan oleh gerakan tektonik tetapi juga getaran vulkanik," kata Joko Siswanto, kepala regional Banten Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Indonesia.

Presiden Joko Widodo kini memprioritaskan pusat peringatan yang memiliki peralatan berkualitas tinggi yang dapat membantu mendeteksi kegiatan di bawah air untuk mempersiapkan diri jika terjadi tragedi skala besar di masa depan.

Video/Narasi: China Central Television (CCTV)
Editor: Ngarto Februana