Daily Star telah melaporkan "teori konspirasi baru" seputar coronavirus baru bahwa jaringan 5G bisa mempercepat penyebaran virus corona jenis baru atau SARS-Cov-2.

Situs cek fakta, fullfact.org, menyatakan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa 5G ada hubungannya dengan Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh SARS-Cov-2.

Artikel di Daily Star tersebut merujuk pada dua teori untuk mendukung klaim bahwa 5G mempercepat virus corona jenis baru. Pertama, 5G mungkin menekan sistem kekebalan tubuh dan, kedua, bahwa virus dapat berkomunikasi melalui gelombang radio. Tak satu pun dari teori-teori ini didukung oleh bukti.

Virus corona baru juga memengaruhi negara dan wilayah yang tidak ada 5G, seperti Iran. Tidak ada bukti bahwa jaringan 5G berbahaya bagi kesehatan.

Seperti generasi sebelumnya dari teknologi jaringan nirkabel (4G, 3G dan 2G), data seluler 5G ditransmisikan melalui gelombang radio. Jenis teknologi lain yang menggunakan gelombang radio termasuk smart meter, pemancar TV dan radio, dan komunikasi radar dan satelit.

Gelombang radio ditemukan di ujung spektrum frekuensi rendah dan — di samping gelombang mikro, cahaya tampak dan panas — hanya menghasilkan radiasi non-pengion. Ini berarti bahwa gelombang-gelombang ini tidak dapat merusak DNA di dalam sel.

Teori kedua yang mengklaim bahwa "virus berbicara satu sama lain" ketika membuat keputusan tentang menginfeksi host"; ini tidak benar. 

Jadi, klaim bahwa 'teknologi jaringan 5G bisa mempercepat penyebaran virus corona baru' adalah cacat/disinformasi.

Sumber Video/Foto: China Central Television (CCTV+), Tangkap Layar Daily Star, Tangkap Layar Fullfact.org, Shenzhen Third Hospital, Thailandmedical, Livescience.com
Sumber Narasi: Fullfact.org
Editor: Ngarto Februana