Bisnis di Jakarta, Indonesia sedang berjuang untuk mengatasi tekanan, setelah pemerintah daerah memutuskan untuk memperpanjang masa transisi pembatasan sosial skala besar mulai dari 14 September.

Salah satu alasan utama di balik keputusan pemerintah tersebut adalah sistem kesehatan Jakarta yang hampir mencapai batasnya dengan kasus COVID-19 setiap hari.

Indonesia melaporkan rekor 3.861 kasus virus korona baru pada hari Kamis, sehingga totalnya menjadi 207.203, kata Kementerian Kesehatan. Ada juga 120 kematian baru, menjadikan total kematian menjadi 8.456, jumlah kematian akibat virus korona tertinggi di Asia Tenggara.

Negara itu mendaftarkan 3.737 kasus lain yang dikonfirmasi pada hari Jumat. Dari kasus baru tersebut, 964 kasus tercatat di Jakarta, menjadikan wilayah tersebut sebagai provinsi dengan peningkatan harian kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia.

Unit gawat darurat dari 67 rumah sakit yang ditunjuk untuk merawat pasien COVID-19 di Jakarta saat ini bekerja dengan kapasitas 83 persen. Sementara itu, 77 persen tempat tidur di bangsal karantina juga telah ditempati di rumah sakit tersebut.

Rumah sakit yang ditunjuk di Jakarta diperkirakan akan terisi penuh jika tidak ada tindakan yang diambil.

Lebih banyak kematian terkait penyakit itu juga memberi tekanan pada layanan pemakaman di Jakarta. Otoritas lokal sedang mencari lahan untuk membangun lebih banyak pemakaman di provinsi tersebut.

Namun, untuk sekali lagi menerapkan pembatasan sosial berskala besar berarti pedagang di Jakarta harus menghentikan bisnis, yang baru saja dibuka belum lama ini.

Stefanus Ridwan, Ketua Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI), meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempertimbangkan kembali keputusannya memperpanjang masa transisi pembatasan sosial berskala besar. Dia mengatakan pemerintah harus lebih fokus pada pelarangan pertemuan di luar pusat perbelanjaan, daripada mempersulit pedagang untuk bertahan dari kejatuhan ekonomi COVID-19.

Video: China Central Television (CCTV)
Editor: Ridian Eka Saputra