Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat angka kehamilan dan pernikahan di Jepang menurun. Hal ini berpotensi meningkatkan krisis demografi di Negeri Sakura itu. 

Data resmi Pemerintah Jepang memperlihatkan jumlah kehamilan yang tercatat dalam tiga bulan hingga Juli 2020, turun 11,4 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah pernikahan pada periode yang sama juga turun 36,9 persen.  

Jepang kini memiliki kelompok masyarakat paling tua di dunia, dengan lebih dari 35 persen populasinya diperkirakan akan berusia 65 tahun ke atas pada tahun 2050, sebuah tren yang menimbulkan risiko bagi pertumbuhan ekonomi dan membebani keuangan pemerintah.  

Sebelumnya, mantan perdana menteri Jepang, Shinzo Abe, mengatakan tren penurunan angka kelahiran ini sebagai krisis nasional. Jumlah kelahiran pada 2019 turun 5,8 persen menjadi sekitar 865 ribu, angka tahunan terendah yang pernah ada. 

Pemerintah Jepang telah berupaya mengatasi hal ini dengan memberikan asuransi kesehatan dan tunjangan untuk pengantin baru menjadi 600 ribu yen setara Rp 83 juta.

 

Foto: Pixabay
Editor: Ridian Eka Saputra