TEMPO.CO, Solo : Menyambut datangnya tahun baru Imlek 2015 pemerintah kota Solo mengadakan prosesi pawai Grebeg Sudiro. Tradisi syukuran menjelang imlek yang diikuti oleh sejumlah kalangan masyarakat baik etnis tionghoa maupun masyarakat jawa tersebut sudah dirayakan semenjak zaman Paku Buwono X dan mulai digalakkan oleh pemerintah Kota Solo sejak tahun 2007.Grebeg Sudiro sendiri merupakan suatu perayaan perpaduan masyarakat Tionghoa-Jawa. Dalam acara ini terdapat gunungan yang disusun dari ribuan kue keranjang, kue khas orang tionghoa dalam menyambut Imlek. Gunungan ini diarak disekitar kawasan Sudiroprajan, diikuti pawai dari kesenian Tionghoa dan Jawa. Puncak perayaan ini ialah saat perebutan hasil bumi dan makanan yang terdapat dalam gunungan. Tradisi rebutan didasari oleh falsafah Jawa ora babah ora mamah yang memiliki arti, jika tidak berusaha tidak makan. Sedangkan, bentuk gunung memiliki maksud dari masyarakat jawa atas rasa syukur pada sang pencipta.Dari kesenian barongsai, tarian, pakaian tradisional, adat keraton sampai kesenian kontemporer akan digelar di sepanjang jalan kawasan Sudiroprajan. Arak-arakan akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie di depan Pasar Gede. Perayaan berakhir dengan dinyalakannya lentera atau lampion berbentuk teko yang digantung di atas pintu gerbang Pasar Gede, penyalaan ini juga diikuti penyalaan lampion ditempat-tempat lainnya.Videographer : Andry PrasetyoEditor : Dwi Oktaviane