TEMPO.CO, Jakarta: Anies-Sandi hampir dipastikan bakal menjadi Gubernur dan Wagub Jakarta yang baru. Mereka harus mulai memposisikan diri sebagai figur moderat yang mampu menjembatani semua kelompok kepentingan.Ini tentu tak mudah. Apalagi strategi kampanye tim Anies memang telah menjual Islam sebagai identitas. Dia juga merangkul kelompok-kelompok Islam yang cenderung radikal, yang selama ini dikenal intoleran dan antikebinekaan. Anies harus mulai menjaga jarak dari kelompok-kelompok Islam garis keras itu jika ingin kehadirannya diterima seluruh warga Jakarta. Pilihan sikap semacam itu menjadi penting karena berbagai data mengindikasikan faktor agama memainkan peran penting dalam pilkada pekan lalu. Meski belum resmi, KPU Jakarta menghitung Anies-Sandi meraup 57,95 persen suara, sementara Basuki-Djarot memperoleh 42,05 persen suara. Jumlah pemilih Ahok hampir sama dengan perolehannya pada putaran pertama. Dengan kata lain, hampir semua suara pendukung Agus menyeberang ke Anies. Kita tahu, kedua kandidat tak menjual gagasan orisinal kecuali "menambal" sejumlah kelemahan inkumben. Misalnya pembangunan ala Ahok yang dinilai tak berpihak pada orang kecil dan komunikasi publik Ahok yang buruk. Kampanye "jangan pilih pemimpin nonmuslim" dengan demikian punya pengaruh besar dalam memindahkan pemilih Agus ke Anies. Memilih pemimpin semata-mata berdasarkan agama atau etnis merupakan langkah mundur bagi demokrasi kita. Tentu ada juga blunder fatal di kubu Basuki-Djarot yang turut mendorong kekalahan mereka.Gerakan pendukungnya yang membagikan sembako pada masa tenang telah menerbitkan antipati publik. Setelah mendorong rekonsiliasi di antara warga, barulah Anies-Sandi bisa mulai memikirkan realisasi janji-janji kampanye mereka. Kerja keras Ahok dalam tiga tahun terakhir telah membuat standar minimal kinerja Gubernur Jakarta meningkat tajam.Karena itu, Anies-Sandi tak boleh menyia-nyiakan waktu: segeralah bersiap dan berbenah.Sumber: Majalah Tempo 24 April 2017Produser: Sadika HamidEditor: Andy