TEMPO.CO, Yogyakarta: Mengisi bulan ramadan, siswa siswi SDIT Salsabila 2, Klaseman, Sinduharjo, Sleman Yogyakarta mempunyai cara unik yakni dengan menggelar sepak bola api. Selain unik dan seru kegiatan tersebut juga untuk melestarikan tradisi nusantara selama bulan puasa seperti sekarang ini.Keunikan dan keseruan sepakbola api yang jarang ditemui ini diikuti puluhan siswa siswi SDIT dengan penuh antusias dan semangat keceriaan mereka. Tidak hanya para murid laki laki saja, namun juga para murid perempuan. Salah satu siswa, Albista Rafian Putra mengaku senang, meski sebelumnya ada perasaan takut. Untuk media bola api sendiri terbuat dari kelapa kering yang kulit luarnya sudah dikupas, lalu direndam dengan minyak tanah kurang lebih 12 jam dan baru dibakar saat permainan dimulai. Tradisi sepak bola api ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan biasanya diadakan di pondok-pondok pesantren, namun di SDIT Salsabila 2, Klaseman sendiri sepakbola api mulai dilakukan pada tahun 2004 silam. Selain untuk hiburan di bulan ramadan, kegiatan tersebut juga untuk menanamkan nilai-nilai dari bola api, seperti halnya untuk melawan dan mengalahkan rasa takut. Diharapkan dengan kegiatan serupa, selain keseruan dan untuk menanamkan nilai menghilangkan rasa takut pada diri siswa sekaligus sebagai bentuk melestarikan tradisi yang sudah ada.Jurnalis Video : Hand WahyuEditor/Narator : Dwi Oktaviane


 

Selengkapnya