TEMPO.CO, Yogyakarta - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mendatangi Kantor Pengurus Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, dan melakukan pertemuan tertutup, Jumat sore. Pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar satu jam tersebut, antara lain guna membahas isu soal konflik yang tengah terjadi di Yerusalem dan Palestina. Pertemuan tertutup antara Menlu dan Muhammadiyah tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan di antaranya soal sikap terhadap persoalan Yerusalem dan Palestina. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir seusai pertemuan tertutup tersebut mengatakan pihaknya mengapresiasi langkah pemerintah dan Kemenlu yang tegas dan berani menjadi pelopor menolak keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Haedar mengatakan penolakan terhadap langkah Donald Trump tersebut penting dilakukan untuk menjaga tegaknya perdamaian dunia. Pasalnya, peristiwa tersebut tidak hanya mempertaruhkan Timur Tengah dan Palestina, melainkan juga merembet ke negara lain karena membawa bara politik baru yang tidak pernah dikehendaki. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam atau OKI tetap harus solid dikarenakan negara-negara tersebut menjadi motor penggerak perjuangan Palestina. Kemenlu juga akan membicarakan persatuan Palestina, yang saat ini masih terpecah menjadi Hamas dan Fatah, supaya mempermudah perjuangan negara itu sendiri untuk selanjutnya. Menlu Retno Marsudi juga menegaskan bahwa pertemuan dengan Muhammadiyah sudah sering dilakukan secara berkala, untuk meminta masukan soal politik luar negeri, terlebih hal yang menyangkut Selain soal Yerusalem dan Palestina, Retno juga mengatakan soal kerja sama lebih lanjut dengan Filipina Selatan.

Jurnalis Video: Hand Wahyu Editor: Zulfikar Epriyadi