TEMPO.CO, Bandung - Dua pekerja berselimut debu berwarna cokelat tua menjalankan mesin penghancur kulit pohon kina kering peninggalan Hindia Belanda di satu-satunya pabrik pengolah dan pembubi daya tanaman kina di lembah Gunung Bukittunggul, di area perkebunan PTPN VIII, Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Debu berasal dari kulit kina yang telah dihancurkan menjadi garam kina untuk dipasok ke pabrik pengolah pil kina. Pil kina ini bermanfaat sebagai anti-malaria.

Selain itu kina juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan minuman ringan. Franz Wilhelm Junghuhn lah yang mengembangkan kina pertama kali di Hindia Belanda di wilayah Kabupaten Bandung pada tahun 1855. Enam tahun kemudian jumlahnya mencapai 1,3 juta batang pohon. Pada tahun 1886 berdiri pabrik pembuat pil kina di Bandung (kini Kimia Farma). Garam kina sebagai bahan dasar dipasok dari pabrik pengolah kulit kina di Bukittunggul. Produksi kina pada masa Indonesia di bawah kolonian Hindia Belanda mencapai puncaknya sampai masa Perang Dunia II yang saat itu 90 persen kebutuhan kina dunia berasal dari Tanah Priangan.

Ironis, kini kebutuhan garam kina nasional 95 persen dipasok dari luar negeri alias impor, hanya 5 persen dipasok oleh kina lokal. Dalam dua atau tiga tahun terakhir produksi di satu-satunya pabrik pengolah kulit kina kering di Indonesia tersebut terjun bebas, hanya tiga ton per bulan. Sekitar lima tahun lalu masih bisa 15 ton per bulan.

Tanaman ini bisa optimal setelah usianya mencapai 5-10 tahun, investor mundur karena waktu panen yang lama. Lahan kina 700 hektare di Bukit Unggul pun terus menyusut karena minim peremajaan dan perawatan pohon. Area tanam kina bisa sehat dan optimal kembali dengan syarat tanaman baru harus dibiarkan tumbuh dan dirawat selama 10 tahunan tanpa boleh dipanen. Bertahan sejak akhir abad ke-19, pabrik pengolah kulit kina tertua di Indonesia ini pamornya kian meredup setelah kebijakan PTPN mencoret kina dari daftar komoditas unggulan kendati pasarnya masih terbuka.

Jurnalis Video: Prima Mulia
Editor: Farah Chaerunniza