TEMPO.CO, Jakarta - Radikalisme yang sudah merasuki anak-anak menjadi keprihatinan banyak pihak. Tak cuma radikalisme, bahkan teroris melibatkan anak-anak dalam bom bunuh diri, seperti bom bunuh diri di Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018. Hal ini membuat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin.

Ketua dan anggota KPAI di kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, menjelaskan berbagai pola yang membuat anak terlibat dalam aksi terorisme. KPAI juga berharap guru dan masyarakat sekitar turut waspada jika mendapati indikasi paham radikal pada anak-anak. Sebab pelaku bom bunuh diri di Surabaya diduga sudah terindikasi memiliki paham radikal sejak 30 tahun lalu, saat masih duduk di bangku sekolah.

Jurnalis Video/Editor: Maria Fransisca Lahur