Dua minggu setelah gempa berkekuatan 7,4 yang disusul tsunami dan likuifaksi melanda Palu, Donggala, banyak korban masih membutuhkan bantuan. Pemerintah telah memutuskan menghentikan pencarian korban. Fokus sekarang adalah pemulihan kembali sebagai tahap berikutnya.

Puluhan ribu orang, banyak dari mereka anak-anak, tidak memiliki rumah untuk pulang dan sangat membutuhkan pertolongan. Lebih dari 2.000 orang meninggal dan sekitar 78.000 orang mengungsi akibat gempa-tsunami pada 28 September 2018 lalu.

Seperti kebanyakan pengungsi, Derma telah kehilangan rumahnya dan semua harta miliknya. Tetapi dia senang bahwa semua orang masih hidup di keluarganya.
Derma, bersama 60 orang lainnya, hidup di bawah satu tenda setelah mereka selamat dari gempa dan tsunami.

Rumah Derma berada di Petobo, salah satu lingkungan paling parah di Palu. 

Kisah memilukan dialami Puput dan Aulia. Bocah perempuan kakak adik itu ketika gempa melanda, mereka sendirian di rumah. Mereka berlari menyelamatkan diri sambil melindungi adik mereka. Selama sembilan jam, bocah berusia 11 tahun dan 10 tahun berjalan dalam kegelapan di dalam lumpur, mencari orang tua mereka.

"Adikku menangis, aku membawanya dan berlari," kata Puput.

"Saya sedang menggendong adik perempuan saya yang ketiga. Saya memberi tahu adik perempuan saya yang ketiga untuk berdiri di tepi tanah," kata Aulia.

"Aku masuk ke lumpur, lalu aku menyerahkannya kepada seseorang. Ketinggian lumpur itu sampai ke pundakku. Aku berkata 'Paman, boleh aku minta tolong, tolong bawa adikku'," kata Puput.

Gadis-gadis kecil itu akhirnya sampai di tempat yang aman di dekat bandara dan menemukan orang tua mereka.

Video/Narasi: China Global Television Network (CGTN)/CCTV/Reuters
Editor: Ngarto Februana