Minggu, 22 September 2019

TEMPO.CO, Kulon Progo: Dengan Program Bela Beli Kulon Progo, Masyarakat diajak untuk membeli produk lokal sehingga masyarakat dan perusahaan daerah memproduksi produk unggulan seperti air mineral AirKu, Beras Daerah, dan gula Semut (gula merah yang dikristalkan).Pada 2012, Hasto mengadakan lomba desain batik khas Kulon Progo. Motif geblek renteng menjadi pemenangnya. Geblek merupakan makanan khas daerah Kulon Progo dan renteng bermakna masyarakat Kulon Progo bergandengan tangan tanpa putus untuk membangun daerahnya.Agar produksi batik makin ramai, Hasto mewajibkan 80 ribu anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas memakai seragam batik geblek renteng. Setiap Kamis, pegawai negeri juga diwajibkan berseragam batik itu.sejak terpilih sebagai Bupati Kulon Progo pada 2011, Hasto langsung memerintahkan Direktur PDAM Kulon Progo Jumantoro mulai mempelajari, mengurus perizinan, dan mengupayakan pendirian pabrik air mineral lokal. Pada 2012, air mineral bermerek AirKU mulai dipasarkan ke seluruh Kulon Progo serta di pinggiran Kabupaten Bantul dan Sleman. tiap bulan pabrik AirKU mampu memproduksi 2 juta air mineral kemasan gelas, 800 kotak kemasan botol 600 mililiter, dan 8.000 ukuran galon.Sebagai bupati, Hasto bergerak cepat. Dia langsung menggagas Tomira, kependekan dari Toko Milik Rakyat, sebagai program untuk melindungi pasar tradisional dari gempuran toko waralaba. Tomira adalah minimarket yang mengakuisisi Alfamart dan Indomaret. Berbeda dari toko waralaba biasa, Tomira wajib menjual barang-barang produksi daerah Kulon Progo, seperti beras yang dipasok dari gabungan kelompok tani, air mineral AirKU, serta makanan kecil produksi usaha kecil dan menengah yang didistribusikan oleh badan usaha milik daerah, Aneka Usaha.Hasto mulai melobi Badan Urusan Logistik agar mengganti raskin produksi Vietnam dan Thailand dengan beras daerah Kulon Progo. Agar produksi beras lokal terserap, setiap pegawai negeri diwajibkan membeli 10 kilogram beras daerah. Hasto pun memberikan pancingan menarik bagi tiap gabungan kelompok tani yang memasok beras ke Bulog dengan memberi mesin pemanen, penggiling, dan pengering padi. Peralihan dari raskin ke beras daerah ini mendongkrak pendapatan gabungan kelompok tani.Sejak program Bela Beli Kulon Progo digalakkan, nilai pendapatan asli daerah itu melonjak hampir tiga kali lipat, dari Rp 62 miliar pada 2012 menjadi Rp 170 miliar pada 2016. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kulon Progo, angka kemiskinan menurun, dari 26 persen pada 2011 menjadi 16 persen pada 2015.Pemerintah kabupaten menggratiskan biaya pengobatan kepada warga dengan plafon Rp 5 juta per jiwa per tahun. Sejak 2014, ia mengeluarkan Peraturan Daerah Kawasan tanpa Rokok. Isinya, antara lain, larangan iklan rokok di semua jalanan di Kulon Progo serta tidak ada sponsor rokok untuk kegiatan olahraga dan musik.Hasto juga membuat program bedah rumah setiap pekan. Rumah yang dianggap tak layak huni dan hampir roboh didirikan kembali dengan dana Rp 10 juta per rumah. Tiap minggu ada tiga-lima rumah yang dibedah tanpa APBD atau APBN.Caranya, pemerintah kabupaten memanfaatkan dana sedekah, infak, dan persembahan dari tiap pegawai negeri. Rayuan Hasto manjur. Dana sedekah, infak, dan persembahan yang terkumpul dari 8.000 pegawai ini mencapai Rp 350 juta per bulan atau sekitar Rp 4 miliar per tahun. Dana itu dijadikan satu dalam program Gentong Rembes, kependekan dari Gerakan Gotong Royong Rakyat Bersatu. Gentong Rembes kemudian memancing donatur dan perusahaan untuk ikut menyumbang dalam jumlah besar.Untuk mendengar aspirasi warganya, Hasto menyempatkan waktu untuk berdialog dengan warga setiap hari kamis pukul 6 pagi hingga 9 pagi.Tim Edisi Khusus Tokoh Tempo 2016Foto: Tony HartawanEditor: Ridian Eka Saputra