Seorang nenek sebatang kara di Kota Serang, Banten, mengaku bekas  pengasuh anak Presiden RI pertama Soekarno jual jajanan sekolah untuk hidup. Wati nenek yang mengaku berusia lebih dari 100 tahun itu, kini hidup digubuk reot berukuran 2 x 3 meter selama 40 tahun di dekat rel kereta api, Lingkungan Ciwaktu,  Sumur Pecung, Kecamatan Serang, Kota Serang Banten.

 

Nenek Wati tinggal digubuk reot tanpa sanak saudara. Wati tidak memiliki anak  kandung, wati hanya ditemani tetangga-tetangganya yang merupakan perantauan dari Jawa. Untuk menjalani hidup, selain menerima jatah makan dari para tetangganya, nenek Wati menjual jajanan anak sekolah ke madrasah.

 

Dari hasil jualan jajanan, perhari Nenek Wati mengantongi uang 10 ribu hingga 15 ribu. Uang tersebut digunakan untuk menabung bekal biaya pemakaman dirinya dan sisanya untuk makan. Nenek Wati yang berasal dari Babakan Barong, Cikampek, Jawa Barat ini mengaku pernah hidup di Jakarta kurang lebih 20 tahun.

 

Saat tinggal di gang Talib dua Jakarta, Nenek Wati mengaku pernah mengasuh anak Presiden RI Soekarno selama 3 tahun. Tidak ada benda peninggalan kenang-kenangan saat mengasuh anak Sokerano, namun Nenek Wati masih ingat dengan nama Megawati,  Guruh  dan Guntur. Nenek Wati pun masih ingat dengan ibu Fatmawati yang konon ikut ke Cikampek menginap di rumahnya selama dua malam. Ketika Soekarno ke Irian.

 

Dedi, tetangga Nenek Wati mendapat amanat dari Ketua RT setempat untuk merawat Wati. Sesudah tinggal di Jakarta, Nenek Wati sebelumnya pernah tinggal di Cilegon Banten bersama suaminya. Kemudian cerai dan tinggal di Kota Serang.

 

Meski tinggal di gubuk reot dekat rel kerata api, dan hidup kesepian tanpa bantuan dari pemerintah Kota Serang. Namun Nenek Wati hidup damai berbaur bersama tetangganya yang selalu ada jika dibutuhkan bantuan.

 

Jurnalis video: Darma Wijaya

Editor/Narator: Ryan Maulana