Kejadian bencana banjir yang berulang di Indonesia tampak seperti tanpa solusi yang komprehensif. Kalau dilihat kejadian banjir pada 2013, 2015, 2018, dan 2020, banjir terjadi pada saat pergantian tahun. Jika dilihat kejadian yang diawali dengan peningkatan curah hujan yang tinggi, tentu tidak sepadan bila kita menyalahkan perubahan iklim dan peningkatan intensitas hujan sebagai penyebabnya.

Sejak 2013, banjir telah terjadi secara reguler pada interval dua-tiga tahun pada Januari dan Februari. Selain itu, banjir seperti di Jakarta tidak semata terjadi karena volume curah hujan, tapi juga pengaruh masukan aliran sungai dari hulu Jakarta, seperti Ciliwung dan Cisadane yang menjadi bagian dari 13 sungai lain yang ada di dataran tinggi Jawa Barat. Dengan kehadiran sungai-sungai tersebut, masalah banjir Jakarta harus diselesaikan secara komprehensif dari hulu sampai hilir.

Banjir Jakarta adalah resultante dari multi-hazard yang tidak diintegrasikan dalam pembangunan. Masifnya pembangunan di Puncak yang tidak terkendali telah menyebabkan terjadinya pembukaan lahan untuk hotel, perumahan, dan peruntukan lain. Akibatnya, daya dukung dan daya tampung kawasan Puncak menurun. Luasnya area terbuka tentu menyebabkan menurunnya kemampuan lahan dalam menyerap dan menahan air akibat curah hujan yang tinggi, sehingga semua air hujan langsung tergelontorkan ke badan air atau menumpuk di dataran rendah, termasuk Jakarta.